MAIN MENU
  HOME
  Articles
  News & Info
  Teachings
  Questions & Answers
  Prophetic Mission
  Mission in Pictures
  Prayer Statement
  Book of Worship
  Bulletins
  About CPM
  Contact CPM
  HOME PRAYER STATEMENT PENDOA SYAFAAT
Kontroversi Nama Allah

Surat Kabar Katolik Dilarang Pakai Nama "Allah"
5 Januari 2008 - 20:46

Pemerintah Malaysia tetap bertahan dengan pendiriannya untuk melarang The Herald, surat kabar mingguan milik gereja Katolik menggunakan kata "Allah", meski surat kabar itu sudah mengajukan gugatan hukum."Salah satu alasan untuk tetap mempertahankan larangan ini adalah, karena negara ini sudah sejak lama menggunakan kata Allah untuk menyebut tuhan dalam keyakinan umat Islam, " kata Abdullah Mohd Zin, menteri yang mengurusi kantor perdana menteri seperti di kutip surat kabar The Star.

Menurut Zin, non-Muslim harus menggunakan kata "God" (Tuhan) dan bukan "Allah" untuk menyebut tuhannya. Ia juga menyatakan, penggunaan kata "Allah" tidak perlu menjadi perdebatan publik yang menimbulkan kesan seolah-olah tidak ada kebebasan beragama di Malaysia.

"Penggunaan kata 'Allah' oleh non-Muslim bisa memicu sensitifitas dan menimbulkan kebingungan di kalangan Muslim di negeri ini, " ujar Abdullah.

Pekan lalu, editor surat kabar The Herald pendeta Lawrence Andrew mengatakan, surat kabar The Herald yang dicetak dalam bahasa Melayu Malaysia, dibolehkan menggunakan kata "Allah" untuk menyebut Tuhan. Menurut Pendeta Andrew, seorang perwakilan dari Kementerian Keamanan Internal membawa sebuat surat tertanggal 28 Desember yang isinya pernyataan memberi izin bagi The Herald untuk menggunakan kata "Allah" tanpa ada pembatasan atau sejenisnya.

Namun Abdullah mengatakan bahwa Pendeta Andrew salah mengerti. "Itu hanya interpretasi pendeta sendiri, bahwa tidak ada larangan dalam penggunaan kata 'Allah'," tukasnya. The Herald, surat kabar seukuran tabloid, didistribusikan ke sekitar 850.000 umat Katolik di Malaysia dalam tiga bahasa: Inggris, China dan Melayu. Atas larangan penggunaan kata "Allah" oleh pemerintah Malaysia, Pendeta Andrew menegaskan akan tetap memperjuangkannya lewat jalur hukum. "Kami tidak akan menarik gugatan hukum yang telah kami ajukan," tandasnya seperti dilansir Agence France-Presse (AFP).

Pendeta Andrew mengatakan, medianya menggunakan kata "Allah" untuk terbitan pertama tahun 2008, yang akan didistribusikan pada 6 Januari 2008. Tapi Deputi Menteri Keamanan Malaysia Johari Baharum menegaskan bahwa pihak The Herald harus mematuhi keputusan pemerintah Malaysia. (Era Muslim 2008).

Selasa, 08 Januari 2008
Kata 'Allah' hanya milik Islam
(Tanggapan atas tulisan 'Tuhan ada di mana-mana')

MENANGGAPI tulisan saudara M Najibur Rohman di Wawasan, Sabtu pahing, 5 Januari 2008 halaman 7 yang berjudul "Tuhan ada di mana-mana", saudara M Najibur Rohman membahas dan menanggapi tulisan surat kabar mingguan Katolik di Malaysia The Herald yang dilarang menggunakan kata "Allah". Saudara M Najibur Rohman menganggap bahwa pelarangan tersebut sebagai sikap pemaksaan mayoritas (muslim) atas minoritas (agama lain-dalam hal ini Katolik dan Kristen), selain merupakan bentuk pengekangan kebebasan beragama.

Sebagai seorang Kristen yang memimpin jemaat, saya justru berpikir sebaliknya. Masalah pelarangan penggunaan kata "Allah" jika ditinjau dari sudut arkeologis, historis, dan kaidah penerjemahan bahasa, bukan merupakan suatu bentuk pengekangan ataupun sikap pemaksaan terhadap minoritas.

Kata "Allah" itu bukan serumpun dari bahasa semitik kuno (Ibrani, Aramaic dan Arab) sehingga kata "Allah" itu cognate dengan El, Eloah, maupun Elohim, karena kata "Allah" itu bukan bahasa melainkan nama diri dari sesembahan, dan kata "Allah" sudah dikenal jauh sebelum agama Islam ada, yaitu sebagai salah satu "nama diri" sesembahan paganisme, kemudian Islam datang dengan mengubah konsep kata "Allah" sebagai sang khalik/ pencipta. (Passing Over, PT Gramedia Pustaka Utama, 1998, hal 85).

Bahasa Ibrani tidak mengenal kata "Allah", apalagi sebagai sebutan, sehingga tidak cognate dengan El, Eloah, dan Elohim yang merupakan "Sebutan" dari Nama Diri "Yahweh" dalam bahasa Ibrani.

Menurut saya, pelarangan itu justru seharusnya bukan hanya untuk Malaysia, sebab kata "Allah" dalam Alquran memang merupakan nama diri yang tidak bisa diubah atau diterjemahkan.

1. Alquran berbahasa Inggris Roman Transliteration of the Holy Qur'an with full Arabic text, English transliteration by Abdullah Yusuf Ali, Dar Al Furqan-Beirut Lebanon Pada Ayat Al Faatihah ayat 1 dan 2 yang dalam transliterasi dari bahasa Arab berbunyi Bismillaahir-Rahmaanir- Rahiim. Al-Hamdulillaahi Rabbil- Aalamiin diterjemahkan: In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful. Praise be to Allah, the Cherisher and Sustainer of the Worlds.

2. Alquran berbahasa Belanda Inleiding tot de studie van de Heilige Qor'aan door Hazrat Mirza Bashir- Ud-Din Mahmud Ahmad, Hoofd van de Ahmadiyya Beweging en tweede opvolger van Hazrat Ahmad (vrede Gods ruste op hem), de Beloofde Messias en Mahdi Stichter van de Beweging, Rabwah-Punjab-Pakistan, Pada Ayat Al Faatihah ayat 1 dan 2 yang dalam transliterasi dari bahasa Arab berbunyi Bismillaahir-Rahmaanir- Rahiim. Al-Hamdulillaahi Rabbil-Aalamiin diterjemahkan In naam van Allah de Barmhartige, de Genadevolle. Alif Laam Miem (Ik ben Allah, de Al-wetende).

Jika umat beragama hidup dalam jalurnya masing-masing, maka antara agama satu dengan yang lain, tidak akan terjadi benturan yang menimbulkan konflik horizontal seperti yang selama ini terjadi antara Kristen Katolik dengan Islam. Dalam agama Kristen dan Katholik, sebenarnya tidak pernah ada kata "Allah", apa yang selama ini dipergunakan untuk menerjemahkan kata "Allah" berasal dari bahasa Ibrani "Elohim" sedangkan untuk kata "ALLAH" (dalam huruf kapital semua) berasal dari nama diri sesembahannya para nabi yang tertulis dalam Alkitab, yaitu "Yahweh" dari huruf Ibrani "Yod He Waw He" yang jika ditransliterasi ke huruf latin akan tertulis YHWH.

Jadi agar tidak terjadi benturan antara Agama Kristen dan Katholik terhadap Islam, memang seyogyanya Kristen dan Katholik tidak menggunakan lagi kata "Allah" untuk menerjemahkan kata "Elohim", melainkan menggunakan kata "Tuhan", dan tidak menggunakan kata "ALLAH" untuk menerjemahkan kata "Yahweh", melainkan tetap ditulis "Yahweh" atau ditulis huruf transliterasinya yaitu YHWH.

Rev Yakub Sulistyo STh MA
Gembala Sidang Gereja
Pimpinan Rohulkudus
"Surya Kebenaran" Ambarawa

Media Nonmuslim Dilarang Tulis 'Allah'
Selasa, 01-01-2008 | 00:44:07

KUALA LUMPUR, BPOST - Sebuah majalah Katolik di Malaysia, Senin (31/12), mengatakan pemerintah Malaysia telah memperbarui keputusannya dengan pelarangan penggunaan kata ''Allah,'' dalam tulisan media Kristen. Pemerintah sendiri mengeluarkan larangan ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya konflik rasial di Negara Jiran. Seperti yang dilansir Associated Press, pemerintah Malaysia telah melarang majalah mingguan The Herald menggunakan kata Allah dalam tulisannya. Namun, ketika pejabat keamanan dalam negeri Malaysia di konfirmasi tentang keputusan tersebut mereka menolak berkomentar.

Sedangkan Kementerian dalam negeri Malaysia mengulangi peringatannya kepada The Herald bahwa ijin terbit mereka akan dicabut jika masih menggunakan 'Allah'. Menurut pejabat kementrian, kata 'Allah' adalah sinonim dari Tuhan yang lebih menggambarkan Tuhan umat muslim dan hanya bisa digunakan oleh orang muslim.

Pemerintah beralasan bahwa kata Allah dalam bahasa Arab berarti Tuhan, begitu juga dalam bahasa Malaysia juga. Dan penggunaan itu di media non Islam ditakutkan akan menimbulkan gejolak di negara yang mayoritas (sekitar 60 persen atau 27 juta) penduduknya beragama Islam ini.

Pemerintah mengkawatirkan jika umat Kristen menggunakan kata ini akan mengacaukan Malaysia. Namun, penganut Kristen di Malaysia berargumentasi bahwa penggunaan Allah dalam kata Arab telah digunakan terlebih dahulu agama Kristen.

"Anda tidak dapat mencegah seseorang menggunakan kata ini dalam bahasanya. Kami membutuhkan kerjasama dan pengertiannya," ujar Andrew, editor The Herrald.

The Herald sendiri telah menerbitkan 12.000 eksemplar dengan menggunakan bahasa English, Malaysia, Mandarin dan Tamil untuk 900,000 warga Katolik di Malaysia. Dan menyikapi sikap pemerintah tersebut, The Herald akan mengajukan tuntutan di pengadilan karena pemerintah dianggap membatasi kebebasan dan menyalahi Konstitusi yang ada

Isu agama memang sangat sensitif di Negeri Jiran ini. Mayoritas penduduknya memang beragama Islam. Namun, etnik China yang beragama Kristen dan Budha juga mencapai 25 persen. Sedangkan etnik India yang sebagian besar beragama Hindu berjumlah sekitar 10 persen. (Okz)




next:   Kesalahan terjemahan  >>







  ARTICLE CONTENT:
1. Sampai kapan orang Kristen mau     bertahan?
2. Pemerintah Malaysia Larang     Nonmuslim Gunakan Kata "Allah"
3. Johari: Only Muslims can use     'Allah'
4. Mereka harus berhenti     menggunakan kata Allah
5. Kalimah2 suci ini dibatasi atau     dilarang samasekali digunakan     oleh non Muslim
6. Kabinet benarkan Islam sahaja     guna kalimah Allah
7. Comments: Those missionary     should think of something else
8. Surat Kabar Katolik Dilarang     Pakai Nama "Allah"
9. Kata 'Allah' hanya milik Islam
10. Media Nonmuslim Dilarang Tulis       'Allah'
11. Kesalahan terjemahan.
12. Allah itu nama tuhannya umat       Islam
13. WHO IS ALLAH?
14. The Moon God
15. Catatan Kita

      

  BULLETINS


 
Home | Articles & Readings | News & Events | Teachings | Q&A | Prophetic Mission
Mission In Picture | Prayer | Worship |Bulletins |Resources | About Us | Contact Us
Copyrights 2008 Cherubims Prophetic Ministry. All Rights Reserved.