Kontroversi Nama Allah.
Sampai kapan orang Kristen mau bertahan?
Sejak awal tahun 90-an, isu panas ini telah terangkat naik khususnya di beberapa Negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Brunai, dan juga Indonesia. Perlahan tapi pasti, kontroversi nama allah telah menjadi "bom waktu" yang suatu saat akan meledak hebat bila tidak di respons dengan benar. Di Brunai mungkin tidak terlalu menggoncangkan karena hanya ada sedikit sekali orang Kristen disana. Tetapi di Malaysia isu ini telah memicu konflik internal diantara masyarakatnya sehingga pemerintah Malaysia merasa perlu untuk "meluruskan sesuatu". Bagaimana di Indonesia? Puncak "gunung es" telah muncul kepermukaan, tapi sayangnya tidak cukup ditanggapi oleh komunitas Kristen, khususnya lembaga-lembaga. Nama allah seolah berusaha untuk dipertahankan sebagai nama sesembahan yang universal, padahal jelas tidak demikian, dan tidak ada Negara didunia yang mengadopsi kata allah dalam terjemahan Kitab Suci kecuali Negara-negara yang beraliansi dengan Islam. Sebelum kita meninjau lebih lanjut, mari kita renungkan sebentar beberapa peliputan mass media mengenai hal ini.

Harian Umum Sore: SINAR HARAPAN, Jakarta, Januari 2008:
Pemerintah Malaysia Larang Nonmuslim Gunakan Kata "Allah"

Kuala Lumpur - Pemerintah Malaysia, Jumat (4/1), menegaskan bahwa nonmuslim tidak boleh menggunakan kata "Allah" dalam media penerbitan. Sikap tersebut menyulut keprihatinan di antara umat Kristen yang juga menggunakan kata Allah untuk menyebut Tuhan dalam Alkitab bahasa Melayu dan terbitan yang lain. Abdullah Zin, Menteri Urusan Agama Islam, Kamis, kepada wartawan menyatakan bahwa menurut pandangan kabinet, Allah mengacu pada Tuhan umat Islam dan hanya boleh digunakan oleh muslim, yang meliputi 60 persen dari sekitar 27 juta penduduk Malaysia.

"Penggunaan kata 'Allah' oleh nonmuslim akan meningkatkan kepekaan dan menciptakan kebingungan di antara muslim di Malaysia," kata Abdullah.

Bersamaan dengan itu, pemerintah memperingatkan kepada pengelola suatu surat kabar Katolik, The Herald, agar tidak lagi menggunakan kata "Allah" setelah izin terbitnya diperpanjang. "Kami telah menyetujui perpanjangan izin terbit. Kini mingguan tersebut wajib menaati keputusan pemerintah untuk tidak menggunakan kata Allah," kata Deputi Menteri Keamanan Mohamad Johari Baharum kepada kantor berita AFP.

Pernyataan pejabat pemerintah tersebut merupakan perkembangan dari kontroversi panjang yang melibatkan The Herald, sebuah mingguan Gereja Katolik Malaysia. Bulan lalu Kementerian Keamanan Internal menyatakan bahwa seksi bahasa Melayunya melarang kalau tidak menghentikan penggunaan kata "Allah" sebagai sinonim Tuhan. Namun, mingguan itu terkejut ketika kementerian tersebut berbalik akhir pekan lalu dengan memperbarui izin tahunan mereka - sebuah persyaratan pemerintah bagi seluruh terbitan di Malaysia - tanpa menerapkan suatu persyaratan apa pun. Mingguan tadi mengasumsikan itu sebagai persetujuan diam-diam untuk penggunaan kata "Allah".

Komentar Abdullah, Kamis itu, bagaimanapun, kembali melemparkan isu itu pada kebingungan baru dan tampaknya akan mengundang keluhan etnis minoritas atas hak-hak mereka yang terancam karena upaya pemerintah meningkatkan status Islam, agama resmi Malaysia. Editor The Herald, Pastor Lawrence Andrew, Rabu, menyatakan terbitan terkininya masih menggunakan kata "Allah", namun ia tidak mengetahui terbitan berikutnya mungkin menghilangkan kata itu.

"Kami akan mendiskusikan hal ini dengan pengacara dan penerbit kami," kata Andrew kepada The Associated Press. Namun, dia mengatakan pihaknya tetap mengajukan gugatan hukum atas larangan tersebut. "Kami tidak akan mencabut gugatan," kata Lawrence mengenai gugatan yang dilayangkan Desember tahun lalu. Telah Lama Andrew juga menegaskan kembali pendirian mingguannya bahwa umat Kristen yang berbahasa Melayu telah lama menggunakan kata "Allah", yang berakar dari bahasa Arab dan sebelum adanya agama Islam. "Terbitan kami menggunakan kata Allah dalam kutipan dari Alkitab (berbahasa Melayu). Tidak seorang pun mengatakan bahwa kami tidak boleh mengutip dari Alkitab. Ini akan menjadi pelanggaran berat terhadap hak-hak kami," tegas Andrew. Ia menolak berkomentar lebih jauh, dengan catatan bahwa mingguannya telah mengupayakan tindakan hukum untuk mendapat pengesahan hukum bagi yang disebut dalam hak-hak konstitusional untuk menggunakan kata "Allah". The Herald, dengan sirkulasi 12.000 eksemplar, diterbitkan dalam empat bahasa - bahasa Inggris, Melayu, Mandarin dan Tamil - bagi 900.000 umat Katolik Malaysia.

Sebuah gereja di negara bagian Sabah, timur Malaysia telah secara terpisah juga menerbitkan larangan penggunaan kata "Allah" dalam kesusastraan bahasa Melayu. Gereja-gereja menyatakan larangan itu melanggar kebebasan beragama yang dijamin oleh konstitusi. Isu-isu agama sangat peka di Malaysia, yang membanggakan diri akan harmoni multiras. Etnis China, yang sebagian besar penganut Kristen dan Buddha, meliputi sekitar seperempat populasi, sementara Hindu India kurang dari 10 persen. (ap/ant/afp/ega/ren)

Soon Li Tsin | Dec 21, 07 5:31pm
Johari: Only Muslims can use 'Allah'
The word 'Allah' can only be used in the context of Islam and not any other religion, said Deputy Internal Security Minister Johari Baharum.

Senin, 31 Des 2007,( AFP - Jawapos)
Mereka harus berhenti menggunakan kata Allah

KUALA LUMPUR - Hanya terjadi di Malaysia. Kata "Allah" diklaim sebagai hak eksklusif umat Islam untuk menggunakannya. Akibatnya, sebuah penerbitan agama lain yang menggunakan kata tersebut dipaksa menghentikan atau izin penerbitannya dicabut. "Hak eksklusif bagi muslim untuk menggunakan kata Allah hanya ada di Malaysia," tegas Bernard Dompok, pejabat di kantor perdana menteri negeri jiran itu.

Media The Herald tidak terima atas larangan tersebut. Mereka pun mengajukan gugatan ke pengadilan dengan memasukkan nama Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi sebagai seorang tergugat. "Kami juga mempunyai hak menggunakan kata Allah, tapi hak tersebut kini dibatasi," ujar Pastor Lawrence Andrew, editor The Herald, kepada AFP.

Larangan yang dialami koran dengan tiras 12.000 eksemplar itu sebenarnya sudah lama dirasakan. Namun, karena tidak ada penjelasan pasti, mereka mengabaikan.

Menteri Muda Urusan Dalam Negeri Malaysia Mohamad Johari Baharum menjelaskan, izin The Herald akan dibekukan sampai media itu menyanggupi aturan yang ditetapkan pemerintah tadi. "Mereka harus berhenti menggunakan kata Allah. Baitullah, salat, dan Kakbah," tegasnya.

Dasarnya, menurut Baharum, penggunaan kata-kata tersebut akan memunculkan kegelisahan dan kebingungan di kalangan komunitas muslim yang menjadi mayoritas di Malaysia. Menurut dia, keputusan pemerintah itu sudah final. (AFP/AP/dia/ruk)

syaukani yusup - rantaunet.com
Mon, 31 Dec 2007 05:13:33 -0800
Kalimah2 suci ini dibatasi atau dilarang samasekali digunakan oleh non Muslim

Assalamualaikumww.
Pada pandangan peribadi saya, memang sepatutnya Kalimah2 suci ini dibatasi atau dilarang samasekali digunakan oleh non Muslim untuk tujuan2 yang tiada kaitan dengan kalimah2 itu karana dikhuatiri mereka tidak memahami nilai dan sensitiviti kalimah2 itu.

Apabila mereka tidak mengetahui apa yang mereka ucapkan mungkin mereka akan menganggapnya sebagai kata2 biasa dan menggunakannya sebagai gurauan. Walau bagaimanapun di Malaysia, bukanlah keseluruhan perkara kalimah Allah dan Muhammad itu dibatasi, pada sesetengah perkara ianya masih digunakan oleh non Muslim. Diantaranya LAMBANG yang diiktiraf oleh Negara, lambang yang dipakai oleh Polisi dikantor dan di pakai oleh Anggota Polisi sendiri terdapat kalimah Allah dan Muhammad dalam tulisan Arab di bahagian atas sekali. Lambang ini tiada berbeda dengan lambang yang dipakai oleh non Muslim.

Pada pendapat saya, lambang itu amat tidak sesuai dipakai dibadan karena badan yang memakainya tidak selalu dalam keadaan bersih selama memakainya. Badan juga akan dibawa ketempat2 yang tidak sesuai membawanya seperti ke kakus dan tempat2 kotor. Begitu juga sipemakai boleh saja melakukan perkara2 yang bertentangan dengan Kalimah2 itu semasa memakainya.

Polisi yang sering diperkatakan sebagai aparat pemerintah yang mempunyai kuasa langsung atau penegak hukum yang keterlaluan yang akhirnya mendatangkan kesengsaraan kepada rakyat yang tidak terbukti bersalah. Maka penggunaan Kalimah2 suci di badan mereka seperti merendah2kan ayat2 suci itu. Mungkin saja sipencipta lambang ini terpengaruh dengan lambang Crown yang berlambangkan salip dibahagian atasnya sebagai topi orang2 kenamaan atau kaum2 elit diraja Kristen, Wallahu aklam. Sehingga hari ini belum ada para Ulama Malaysia yang memperkatakan akan lambang ini.

Apakah pendapat Bapak2 Ibuk2 sidang pembaca? Wassalam, Kani49 (rantaunet).

Posted by Haniza Talha, Friday, 04 January 2008
Kabinet benarkan Islam sahaja guna kalimah Allah

UTRAJAYA 3 Jan. - Kabinet mengekalkan larangan bagi semua agama kecuali Islam daripada menggunakan kalimah 'Allah' dalam penerbitan akhbar masing- masing bagi mengelakkan wujud suasana tidak harmoni.

Menteri di Jabatan Perdana Menteri, Datuk Dr. Abdullah Md. Zin berkata, keputusan itu dibuat kerana penggunaan kalimah 'Allah' oleh agama lain boleh menimbulkan kekeliruan dan kemarahan di kalangan umat Islam di negara ini. Beliau berkata, adalah tidak wajar larangan penggunaan kalimah 'Allah' oleh agama lain dijadikan perbahasan umum yang menggambarkan seolah-olah tiada kebebasan beragama di negara ini.

''Semalam, Kabinet memutuskan untuk mengekalkan larangan penggunaan kalimah 'Allah' seperti mana yang telah diputuskan dalam mesyuaratnya pada 18 Oktober dan 1 November 2006.
v ''Lagipun, mengikut amalan sejak sekian lama di negara ini, kalimah 'Allah' hanya merujuk kepada Tuhan penganut agama Islam sahaja," katanya. Beliau berkata demikian pada sidang akhbar khas sempena Sambutan Maal Hijrah Peringkat Kebangsaan Tahun 1429/2008 yang akan disambut pada 10 Januari ini di sini hari ini.

Acara tahunan kali ini yang bertemakan 'Menjana Ummah Gemilang' itu akan dihadiri oleh Yang di-Pertuan Agong, Tuanku Mizan Zainal Abidin dan Raja Permaisuri Agong, Tuanku Nur Zahirah.

Pada 31 Disember lalu, pengarang akhbar Herald-The Catholic Weekly, Paderi Lawrence Andrew menyatakan bahawa pihak Kementerian Keselamatan Dalam Negeri (KKDN) telah memperbaharui permit penerbitan akhbar itu tanpa larangan menggunakan kalimah 'Allah'. Bagaimanapun, pada hari yang sama, Timbalan Menteri KKDN, Datuk Johari Baharum menegaskan, sekali pun permit akhbar itu diperbaharui, larangan penggunaan kalimah 'Allah' masih kekal. Sehubungan itu, Abdullah memberitahu, pihaknya akan memaklumkan secara rasmi kepada KKDN berhubung keputusan tersebut secepat mungkin.

Beliau berkata, selain kalimah 'Allah', kalimah solat, Kaabah dan Baitullah adalah dilarang penggunaannya dalam penerbitan agama lain. ''Ia berdasarkan keputusan Kabinet pada 31 Julai 2002," katanya. (UTUSAN)

Comments: Those missionary should think of something else.
Subscribe to this comment's feed
written by Malay Ultraman, January 07, 2008 | 10:07:26

Within Malaysia context, Allah has always been a Proper name for God of Muslim. Allah is not a general term like God. The jewish use the term G_d to differentiate itself from Chritian God. While for Muslim Allah is associated as One, single,non- replicable, non-producible, non- comparable to any creature in any metaphysic. While for Christian, God is associated with trinitiy concept, 3 in 1, son, father and holy ghost plus saint Mary plus Jesus idol which negate itself to Allah. For Malays, calling Allah for Christian God is very much like calling Toh Pe Kong as Allah. It is a huge blasphemy. Of course, some would argue that Arab Christians have been using Allah since day 1. But within malaysia communitiy especially Iban and Kadazan tribes, non of them speak Arab. I am not at all a big fan of BN government. But this time, the minister is doing the right job. Those missionary should think of something else. Instead of Allah, they can use capitalize word like TUHAN or GOD and get them copyright registered. Get real!!! Non of my Christian friends ever use the word Allah and they dont even know how to pronounce it!! Even if they do, they sound very funny... (MALAYSIA TODAY)

Surat Kabar Katolik Dilarang Pakai Nama "Allah"
5 Januari 2008 - 20:46

Pemerintah Malaysia tetap bertahan dengan pendiriannya untuk melarang The Herald, surat kabar mingguan milik gereja Katolik menggunakan kata "Allah", meski surat kabar itu sudah mengajukan gugatan hukum."Salah satu alasan untuk tetap mempertahankan larangan ini adalah, karena negara ini sudah sejak lama menggunakan kata Allah untuk menyebut tuhan dalam keyakinan umat Islam, " kata Abdullah Mohd Zin, menteri yang mengurusi kantor perdana menteri seperti di kutip surat kabar The Star.

Menurut Zin, non-Muslim harus menggunakan kata "God" (Tuhan) dan bukan "Allah" untuk menyebut tuhannya. Ia juga menyatakan, penggunaan kata "Allah" tidak perlu menjadi perdebatan publik yang menimbulkan kesan seolah-olah tidak ada kebebasan beragama di Malaysia.

"Penggunaan kata 'Allah' oleh non-Muslim bisa memicu sensitifitas dan menimbulkan kebingungan di kalangan Muslim di negeri ini, " ujar Abdullah.

Pekan lalu, editor surat kabar The Herald pendeta Lawrence Andrew mengatakan, surat kabar The Herald yang dicetak dalam bahasa Melayu Malaysia, dibolehkan menggunakan kata "Allah" untuk menyebut Tuhan. Menurut Pendeta Andrew, seorang perwakilan dari Kementerian Keamanan Internal membawa sebuat surat tertanggal 28 Desember yang isinya pernyataan memberi izin bagi The Herald untuk menggunakan kata "Allah" tanpa ada pembatasan atau sejenisnya.

Namun Abdullah mengatakan bahwa Pendeta Andrew salah mengerti. "Itu hanya interpretasi pendeta sendiri, bahwa tidak ada larangan dalam penggunaan kata 'Allah'," tukasnya. The Herald, surat kabar seukuran tabloid, didistribusikan ke sekitar 850.000 umat Katolik di Malaysia dalam tiga bahasa: Inggris, China dan Melayu. Atas larangan penggunaan kata "Allah" oleh pemerintah Malaysia, Pendeta Andrew menegaskan akan tetap memperjuangkannya lewat jalur hukum. "Kami tidak akan menarik gugatan hukum yang telah kami ajukan," tandasnya seperti dilansir Agence France-Presse (AFP).

Pendeta Andrew mengatakan, medianya menggunakan kata "Allah" untuk terbitan pertama tahun 2008, yang akan didistribusikan pada 6 Januari 2008. Tapi Deputi Menteri Keamanan Malaysia Johari Baharum menegaskan bahwa pihak The Herald harus mematuhi keputusan pemerintah Malaysia. (Era Muslim © 2008).

Selasa, 08 Januari 2008
Kata 'Allah' hanya milik Islam
(Tanggapan atas tulisan 'Tuhan ada di mana-mana')

MENANGGAPI tulisan saudara M Najibur Rohman di Wawasan, Sabtu pahing, 5 Januari 2008 halaman 7 yang berjudul "Tuhan ada di mana-mana", saudara M Najibur Rohman membahas dan menanggapi tulisan surat kabar mingguan Katolik di Malaysia The Herald yang dilarang menggunakan kata "Allah". Saudara M Najibur Rohman menganggap bahwa pelarangan tersebut sebagai sikap pemaksaan mayoritas (muslim) atas minoritas (agama lain-dalam hal ini Katolik dan Kristen), selain merupakan bentuk pengekangan kebebasan beragama.

Sebagai seorang Kristen yang memimpin jemaat, saya justru berpikir sebaliknya. Masalah pelarangan penggunaan kata "Allah" jika ditinjau dari sudut arkeologis, historis, dan kaidah penerjemahan bahasa, bukan merupakan suatu bentuk pengekangan ataupun sikap pemaksaan terhadap minoritas.

Kata "Allah" itu bukan serumpun dari bahasa semitik kuno (Ibrani, Aramaic dan Arab) sehingga kata "Allah" itu cognate dengan El, Eloah, maupun Elohim, karena kata "Allah" itu bukan bahasa melainkan nama diri dari sesembahan, dan kata "Allah" sudah dikenal jauh sebelum agama Islam ada, yaitu sebagai salah satu "nama diri" sesembahan paganisme, kemudian Islam datang dengan mengubah konsep kata "Allah" sebagai sang khalik/ pencipta. (Passing Over, PT Gramedia Pustaka Utama, 1998, hal 85).

Bahasa Ibrani tidak mengenal kata "Allah", apalagi sebagai sebutan, sehingga tidak cognate dengan El, Eloah, dan Elohim yang merupakan "Sebutan" dari Nama Diri "Yahweh" dalam bahasa Ibrani.

Menurut saya, pelarangan itu justru seharusnya bukan hanya untuk Malaysia, sebab kata "Allah" dalam Alquran memang merupakan nama diri yang tidak bisa diubah atau diterjemahkan.

1. Alquran berbahasa Inggris Roman Transliteration of the Holy Qur'an with full Arabic text, English transliteration by Abdullah Yusuf Ali, Dar Al Furqan-Beirut Lebanon Pada Ayat Al Faatihah ayat 1 dan 2 yang dalam transliterasi dari bahasa Arab berbunyi Bismillaahir-Rahmaanir- Rahiim. Al-Hamdulillaahi Rabbil- Aalamiin diterjemahkan: In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful. Praise be to Allah, the Cherisher and Sustainer of the Worlds.

2. Alquran berbahasa Belanda Inleiding tot de studie van de Heilige Qor'aan door Hazrat Mirza Bashir- Ud-Din Mahmud Ahmad, Hoofd van de Ahmadiyya Beweging en tweede opvolger van Hazrat Ahmad (vrede Gods ruste op hem), de Beloofde Messias en Mahdi Stichter van de Beweging, Rabwah-Punjab-Pakistan, Pada Ayat Al Faatihah ayat 1 dan 2 yang dalam transliterasi dari bahasa Arab berbunyi Bismillaahir-Rahmaanir- Rahiim. Al-Hamdulillaahi Rabbil-Aalamiin diterjemahkan In naam van Allah de Barmhartige, de Genadevolle. Alif Laam Miem (Ik ben Allah, de Al-wetende).

Jika umat beragama hidup dalam jalurnya masing-masing, maka antara agama satu dengan yang lain, tidak akan terjadi benturan yang menimbulkan konflik horizontal seperti yang selama ini terjadi antara Kristen Katolik dengan Islam. Dalam agama Kristen dan Katholik, sebenarnya tidak pernah ada kata "Allah", apa yang selama ini dipergunakan untuk menerjemahkan kata "Allah" berasal dari bahasa Ibrani "Elohim" sedangkan untuk kata "ALLAH" (dalam huruf kapital semua) berasal dari nama diri sesembahannya para nabi yang tertulis dalam Alkitab, yaitu "Yahweh" dari huruf Ibrani "Yod He Waw He" yang jika ditransliterasi ke huruf latin akan tertulis YHWH.

Jadi agar tidak terjadi benturan antara Agama Kristen dan Katholik terhadap Islam, memang seyogyanya Kristen dan Katholik tidak menggunakan lagi kata "Allah" untuk menerjemahkan kata "Elohim", melainkan menggunakan kata "Tuhan", dan tidak menggunakan kata "ALLAH" untuk menerjemahkan kata "Yahweh", melainkan tetap ditulis "Yahweh" atau ditulis huruf transliterasinya yaitu YHWH.

Rev Yakub Sulistyo STh MA
Gembala Sidang Gereja
Pimpinan Rohulkudus
"Surya Kebenaran" Ambarawa

Media Nonmuslim Dilarang Tulis 'Allah'
Selasa, 01-01-2008 | 00:44:07

KUALA LUMPUR, BPOST - Sebuah majalah Katolik di Malaysia, Senin (31/12), mengatakan pemerintah Malaysia telah memperbarui keputusannya dengan pelarangan penggunaan kata ''Allah,'' dalam tulisan media Kristen. Pemerintah sendiri mengeluarkan larangan ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya konflik rasial di Negara Jiran. Seperti yang dilansir Associated Press, pemerintah Malaysia telah melarang majalah mingguan The Herald menggunakan kata Allah dalam tulisannya. Namun, ketika pejabat keamanan dalam negeri Malaysia di konfirmasi tentang keputusan tersebut mereka menolak berkomentar.

Sedangkan Kementerian dalam negeri Malaysia mengulangi peringatannya kepada The Herald bahwa ijin terbit mereka akan dicabut jika masih menggunakan 'Allah'. Menurut pejabat kementrian, kata 'Allah' adalah sinonim dari Tuhan yang lebih menggambarkan Tuhan umat muslim dan hanya bisa digunakan oleh orang muslim.

Pemerintah beralasan bahwa kata Allah dalam bahasa Arab berarti Tuhan, begitu juga dalam bahasa Malaysia juga. Dan penggunaan itu di media non Islam ditakutkan akan menimbulkan gejolak di negara yang mayoritas (sekitar 60 persen atau 27 juta) penduduknya beragama Islam ini.

Pemerintah mengkawatirkan jika umat Kristen menggunakan kata ini akan mengacaukan Malaysia. Namun, penganut Kristen di Malaysia berargumentasi bahwa penggunaan Allah dalam kata Arab telah digunakan terlebih dahulu agama Kristen.

"Anda tidak dapat mencegah seseorang menggunakan kata ini dalam bahasanya. Kami membutuhkan kerjasama dan pengertiannya," ujar Andrew, editor The Herrald.

The Herald sendiri telah menerbitkan 12.000 eksemplar dengan menggunakan bahasa English, Malaysia, Mandarin dan Tamil untuk 900,000 warga Katolik di Malaysia. Dan menyikapi sikap pemerintah tersebut, The Herald akan mengajukan tuntutan di pengadilan karena pemerintah dianggap membatasi kebebasan dan menyalahi Konstitusi yang ada

Isu agama memang sangat sensitif di Negeri Jiran ini. Mayoritas penduduknya memang beragama Islam. Namun, etnik China yang beragama Kristen dan Budha juga mencapai 25 persen. Sedangkan etnik India yang sebagian besar beragama Hindu berjumlah sekitar 10 persen. (Okz)

Kesalahan terjemahan
Di Indonesia kata "Allah", itu bukan sinonim dari kata "Tuhan", sebab pemahaman kata "Allah" sendiri antara Kristen dan Katholik dengan Islam berbeda. Jika diklarifikasi, berdasarkan pemakaian kata "Allah" pada umat Kristen dan Katholik, akan berprinsip bahwa Allah itu "Roh", sedangkan Islam berprinsip "Allah" itu zat, kalau kata "Allah" itu merupakan "bahasa" seharusnya antara umat Kristen dan Katholik dengan Islam serta dengan umat agama lain seperti Hindu dan Budha, akan punya pemahaman yang sama. Jadi penggunaan kata "Allah" oleh umat Kristen dan Katolik selama ini, merupakan kesalahan terjemahan. Contohnya: Kata "kursi" yang mengadopsi dari bahasa Arab Al-kursi baik umat Kristen, Katholik, Islam, Hindu dan Budha, dapat memiliki persepsi yang sama dari arti kata tersebut yaitu tempat untuk duduk., sedangkan kata Allah, umat Hindu dan Budha tidak pernah memakainya sebagai sinonim dari kata Tuhan sebab kata "Allah" itu nama diri yang tidak boleh dan tidak bisa diterjemahkan.

Allah itu nama tuhannya umat Islam
Kata "Allah" juga bukan berasal dari kata "Al-ilah" karena:
  1. Allah itu nama tuhannya umat Islam, buktinya umat Islam di Amerika jika sembahyang akan mengucapkan "Allahu akbar" bukan "God akbar"
  2. Allah bukan berasal dari al-ilah dengan menghilangkan alif seperti penjelasan para dosen Islamologi, sehingga tinggal "lah" sebab artinya akan berubah, bukan nama tuhannya umat Islam atau sebutan untuk "dewa" atau sesembahan lagi, melainkan lisyakshin atau baginya laki-laki.
  3. Ilah itu sudah satu paket kosakata yang tidak bisa dipenggal, karena kata benda bukan kata kerja.
  4. Ilah bisa dimasukkan alif lam karena ilah adalah gelar atau sebutan sedangkan Allah itu tidak bisa karena nama pribadi.
    Contoh : Ustaadzun guru laki-laki, bisa dimasukkan alif lam, sehingga menjadi al-ustaadzu, tetapi Fatimah tidak bisa ditulis menjadi al-Fatima karena Fatimah itu nama pribadi atau nama orang.
  5. Ilah atau al-ilah ada mutsannahnya yaitu ilahaani artinya dua tuhan atau dua dewa, sedangkan Allah tidak ada mutsannahnya/tatsniyah-nya, kalau ada artinya bukan Allah lagi tetapi Allahaani, ini mengganti nama sesembahannya umat Islam.
    Contoh : Fatimah kalau di-mutsannah- kan menjadi Fatimataani yang berarti bukan lagi Fatimah tetapi berubah menjadi Tante Fatimataani.
  6. Ilah atau al-ilah bisa diterjemahkan menjadi dewa atau sesuatu yang disembah sedang "Allah" tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun karena nama pribadi. Silakan baca sendiri di Kamus Indonesia-Arab-Inggris Karangan Abd bin Nuh dan Oemar Bakri halaman 76.
  7. Allah bukan berasal dari hamzah, lam, ha karena kalau diuraikan secara ilmu shorof (ilmu yang menguraikan kata kerja) tidak pernah ditemukan, baik fiil madhinya/past tense, mudhori'nya/present continous tense, maupun mashdarnya/kata kerja yang tidak ada waktunya atau sumber kata. Yang ada hamzah, lam, lam, ha, atau allaha, tetapi kalau diuraikan secara wazan/ukuran /timbangan dalam ilmu shorof juga tidak bisa menjadi Allah.
    Contoh: "Allaha" dengan wazan af'ala-yuf'ilu-if'aalan. Jadi kalau kita uraikan secara nahwu shorof "Allaha" menjadi: Allaha-yullihu-illaahan. Dan itu bukan Allah tetapi sebutan.
Tidak ada satu pun makhluk yang berhak memakai nama "Allah". Maka manusia hanya boleh memakai nama Abdullah (hamba Allah), Abdurrahman (hamba Allah Yang Maha Rahman), dll. Karena itulah kata "Allah" tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Maka terjemahan "Allah" menjadi God (bahasa Inggris) atau Tuhan (Indonesia) adalah tindakan yang batil. Karena God bisa diubah menjadi bentuk jama' (Gods) dan Tuhan bisa diubah menjadi bentuk jamak (Tuhan-tuhan). Sedangkan Allah tidak bisa diubah menjadi bentuk jamak. (hf)

First Encyclopedia of Islam, E.J. Brill, 1987, Islam, p. 302, 587-591:
"Allah, the Supreme Being of the Mussulmans: Before Islam. That the Arabs, before the time of Muhammed, accepted and worshipped, after a fashion, a supreme god called Allah,--"the Ilah, or the god, if the form is of genuine Arabic source; if of Aramaic, from Alaha, "the god"-seems absolutely certain. Whether he was an abstraction or a development from some individual god, such as Hubal, need not here be considered...But they also recognized and tended to worship more fervently and directly other strictly subordinate gods...It is certain that they regarded particular deities (mentioned in 1iii. 19-20 are al-'Uzza, Manat or Manah, al-Lat'; some have interpreted vii, 179 as a reference to a perversion of Allah to Allat as daughters of Allah (vi. 100; xvi, 59; xxxvii, 149; 1iii, 21); they also asserted that he had sons (vi. 100)..."There was no god save Allah". This meant, for Muhammed and the Meccans, that of all the gods whom they worshipped, Allah was the only real deity. It took no account of the nature of God in the abstract, only of the personal position of Allah. ...ilah, the common noun from which Allah is probably derived...".

WHO IS ALLAH?
(John Hagee)

The name Allah came from an Arabic word that had to do with the worship of the moon god in pre-Islamic Arabia. "Allah" cannot be found in the Hebrew Old Testament or the Greek New Testament.

Allah is not the same as God of Abraham, Isaac, and Jacob. According to the Bible, God is knowable! Jesus Christ came into the world that we might know God (John 17:3). God's Word tells us that man can come into a personal relationship with God the Father. He said, "Call to Me, and I will answer you, and show you great and mighty things, which you do not know" (Jeremiah 33:3). God wants to love you…today…just as you are!" For God so loved the world that He gave…" (John 3:16). "God is love, and he who abides in love abides in God, and God in him" (1 John 4:16).

But in Islam, Allah is unknowable. He is so exalted that no man can ever personally know Allah. The Allah of the Quran is so distant, so far off, so abstract, that no one can know him. And Muslim believers can never know the love of Allah until Judgment Day when they find out if Allah loves them and will invite them into paradise. In his book Jesus and Muhammad, Mark Gabriel, a former devout Muslim, says: "If you ask a Muslim, 'Do you know how much Allah loves you?" he will respond, 'I don't know how much he loves me. Only Allah knows".

He gives this example from his own life:
"When I was living as a Muslim in Egypt, I was always puzzled by a little saying that the Christians used to put on their cars or frame in their shops. The phrase was God (he said Allah) is love. Those two words are never put together in the Quran. I always thought, I wonder what these people are trying to say".

The god of Islam is totally different from the God we know. The Quran tells us that the god of Islam works with Satan and demons to lead people astray in order to populate the hell he created (Surah 6:39, 126; 32:13; 43:36-37). When you turn to the Quran, you discover that Allah told Muhammad his prophet. Jesus Christ never told His disciples to kill anyone. When Peter attacked the Roman soldier who came to arrest Christ and take Him to the cross, Jesus healed the soldier - a soldier who later nailed Him to the cross. That's love!

The love relationship between Jesus and God the Father was reflected in Jesus' relationship with His followers. Jesus told His disciples that God loved them: "The Father Himself loves you, because you have loved Me, and have believed that I came forth from God" (John 16:27).

Mark Gabriel describes the differences between our God and the god of Islam with this words: "For Jesus, God is loving father; for Muhammad, Allah in a demanding master. The description sets the tone regarding love for all their other relationship…Allah finds new believers who will serve him better. In contrast, God the Father searches for the one lost lamb until He finds it and brings it home rejoicing. This is the difference between Allah and God".
(From the book: Jerusalem Countdown pages 41-42 by John Hagee '2006)

The Moon God
(Jack Finegan, Written by Brother Andrew )

There are a number of scholars who believe that Allah, was originally the name of the moon god of Northern Arabia. It is important to remember that the word "Allah" simply means "the god" and corresponds to "ho theos" in the Greek New Testament as "the God" which refers to the Father in John 1:1 and the Son in John 20:28 and Heb 1:8. What is interesting is that Hubal was the top pagan moon god of the Kabah. So Allah is the generic and Hubal, may have been the actual name, in the same way that "the God" is generic and "Jehovah" is the name. The Arabs may have referred to "Hubal" as "Allah", just like Jews would refer to "Jehovah" as "The God".
  1. "Allah, the Supreme Being of the Mussulmans: Before Islam. That the Arabs, before the time of Muhammed, accepted and worshipped, after a fashion, a supreme god called Allah,--"the Ilah, or the god, if the form is of genuine Arabic source; if of Aramaic, from Alaha, "the god"-seems absolutely certain. Whether he was an abstraction or a development from some individual god, such as Hubal, need not here be considered...But they also recognized and tended to worship more fervently and directly other strictly subordinate gods...It is certain that they regarded particular deities (mentioned in 1iii. 19-20 are al-'Uzza, Manat or Manah, al-Lat'; some have interpreted vii, 179 as a reference to a perversion of Allah to Allat as daughters of Allah (vi. 100; xvi, 59; xxxvii, 149; 1iii, 21); they also asserted that he had sons (vi. 100)..."There was no god save Allah". This meant, for Muhammed and the Meccans, that of all the gods whom they worshipped, Allah was the only real deity. It took no account of the nature of God in the abstract, only of the personal position of Allah. ...ilah, the common noun from which Allah is probably derived..." (First Encyclopedia of Islam, E.J. Brill, 1987, Islam, p. 302)
  2. Allah. Islamic name for God. Is derived from Semitic El, and [Allah] originally applied to the Moon; he [Allah] seems to have been preceded by Ilmaqah, the Moon-god. Allat is the female counterpart of Allah. (Everyman's Dictionary of Non-Classical Mythology, Egerton Sykes, Godspeed, Allah)
  3. The Bedouin's astral beliefs centred upon the moon, in whose light he grazed his flocks. Moon-worship implies a pastoral society, whereas sun-worship represents a later agricultural stage. In our own day the Moslem Ruwalah Bedouins imagine that their life is regulated by the moon, which condenses the water vapours, distils the beneficent dew on the pasture and makes possible the growth of plants. On the other hand the sun, as they believe, would like to destroy the Bedouins as well as all animal and plant life. (History Of The Arabs, Philip K. Hitti, 1937, p 96-101)
  4. There are stories in the Sira of pagan Meccan praying to Allah while standing beside the image of Hubal. (Muhammad's Mecca, W. Montgomery Watt, Chapter 3: Religion In Pre-Islamic Arabia, p26-45)
  5. "The relation of this name, which in Babylonia and Assyrian became a generic term simply meaning 'god', to the Arabian Ilah familiar to us in the form Allah, which is compounded of al, the definite article, and Ilah by eliding the vowel 'i', is not clear. Some scholars trace the name to the South Arabian Ilah, a title of the Moon god, but this is a matter of antiquarian interest" (Islam, Alfred Guillaume, 1956, p 6-7)
  6. "The first pre-Islamic inscription discovered in Dhofar Province, Oman, this bronze plaque, deciphered by Dr. Albert Jamme, dates from about the second century A.D. and gives the name of the Hadramaut moon good Sin and the name Sumhuram, a long-lost city....The moon was the chief deity of all the early South Arabian kingdoms-particularly fitting in that region where the soft light of the moon brought the rest and cool winds of night as a relief from the blinding sun and scorching heat of day. In contrast to most of the old religions with which we are familiar, the moon god is male, while the sun god is his consort, a female. The third god of importance is their child, the male morning star, which we know as the planet Venus...The spice route riches brought them a standard of luxurious living inconceivable to the poverty-stricken South Arabian Bedouins of today. Like nearly all Semitic peoples they worshipped the moon, the sun, and the morning star. The chief god, the moon, was a male deity symbolized by the bull, and we found many carved bulls' heads, with drains for the blood of sacrificed animals." (Qataban and Sheba, Wendell Phillips, 1955, p. 227)
  7. "...a people of Arabia, of the race of the Joktanites...the Alilai living near the Red Sea in a district where gold is found; their name, children of the moon, so called from the worship of the moon, or Alilat." (Gesenius Hebrew and Chaldee Lexicon to the Old Testament Scriptures, translated by Samuel Prideaux Tregelles, 1979, p. 367)
  8. Allat, according to recent study of the complicated inspirational evidence, is believed to have been introduced into Arabia from Syria, and to have been the moon goddess of North Arabia. If this is the correct interpretation of her character, she corresponded to the moon deity of South Arabia, Almaqah, `Vadd, `Amm or Sin as he was called, the difference being only the oppositeness of gender. Mount Sinai (the name being an Arabic feminine form of Sin) would then have been one of the centers of the worship of this northern moon goddess. Similarly, al-`Uzza is supposed to have come from Sinai, and to have been the goddess of the planet Venus. As the moon and the evening star are associated in the heavens, so too were Allat and al-`Uzza together in religious belief, and so too are the crescent and star conjoined on the flags of Arab countries today.
(The Archeology Of World Religions, Jack Finegan, 1952, p482-485, 492) Written by Brother Andrew (http://www.bible.ca/bible.htm).

CATATAN KITA:
ORANG KRISTEN MENYEMBAH TUHAN-NYA ORANG ARAB ATAU TUHAN-NYA ORANG IBRANI?

Pastinya, umat Kristen dimanapun diseluruh dunia telah berkomitken untuk menyembah Tuhannya orang Yahudi, Tuhan Israel, yaitu Yahweh Adonai Elohim. Orang Kristen, dimanapun di dunia ini (kecuali di Indonesia???) tidak ada yang berkomitmen untuk menyembah Tuhannya orang Arab yang namanya Allah.

Kalau menyembah Tuhan-nya orang Ibrani mengapa memanggil-Nya dengan nama Tuhan-nya orang Arab?

Karena Tuhannya orang Ibrani itu Yahweh Adonai Elohim, maka sebagai orang Kristen yang berkomitmen untuk menyembah Dia kita seharusnya tidak bisa menerima penyebutan nama Tuhan-nya orang Arab untuk menyebut Tuhannya orang Ibrani, bukan???

Karena saya orang Kristen, maka saya memanggil Tuhan-nya Abraham-Ishak-Yakub, dan namanya adalah Yahweh Adonai Elohim. That's it…!!! (akan sangat tidak lucu jika saya memanggil-Nya dengan nama Tuhan-nya orang Islam atau Tuhan-nya orang Hindu misalnya).

Sesederhana itu kan? Mengapa harus berdalih mempertahankan yang salah akibat kebodohan dimasa lalu? Dan kalau mau mendalami lebih lagi (seperti yang sudah kami lakukan) mengenai siapa Tuhan-nya orang Arab dan siapa Tuhannya orang Israel, anda pasti tidak akan berani main-main dengan nama Yahweh Adonai Elohim itu, apalagi merubah atau menyamakannya dengan nama Tuhan-nya orang Arab atau Tuhan-tuhan lain. Kekurangan pengetahuan dapat membuat kita tersesat bahkan binasa (Hosea 4:6).

MULAI BANYAK SURAT-SURAT SEPERTI INI:


Pengetahuan dan pengertian tentang bilangan/angka Elohim misalnya, membuat kita mengerti apa arti nama-Nya di dalam ikatan perjanjian kekal sehingga kita tidak akan pernah lagi menyebut nama-nama lain bila mau menerima seluruh penggenapan rancangan penebusan dan berkat-berkat-Nya atas hidup kita.

Di ujung akhir zaman ini Kitab Suci menubuatkan akan hadirnya orang-orang yang menghina nama Tuhan (Maleakhi 1:6) dan memanggil nama-nama Baal (Hosea 11:7):

"Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?" (Maleakhi 1:6). "Umat-Ku betah dalam membelakangi Aku; mereka memanggil kepada Baal dan berhenti meninggikan nama-Ku" (Hosea 11:7).

Berhenti untuk mengganti nama Elohim dengan nama lain bila anda tidak mau termasuk dalam nubuatan orang-orang yang menghina nama Tuhan yang kudus. Zaman kebodohan dan kebebalan seharusnya telah berlalu dari kehidupan gereja Tuhan, waktunya sekarang gereja Tuhan menjadi dewasa dan memiliki segala pengetahuan untuk dapat menghormati nama Tuhan sebagai Elohim Isra-EL. Sampai kapan orang Kristen mau bertahan???

Renungkan ayat-ayat firman Tuhan ini: Yesaya 43:7; Mazmur 91:14; Yesaya 52:6; Yohanes 17:11,12,26. DI DALAM NAMA-NYA, oleh iman, YESHUA HAMASIAH MEMBERKATI KITA dengan berkat-berkat extrem…di dalam Nama-Nya…di dalam Nama-Nya!

"Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Adonai!" (Matius 23:39).
"…Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka" (Matius 18:20).

Waktunya Jemaat Anak Sulung, The Covenant Holders, membuka dan meratakan jalan bagi pernyataan kebenaran Elohim. Berdoa profetik dan melepaskan Roh Nubuat untuk "mematahkan dan merobohkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Elohim. Dan menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Hamasiah" (2 Korintus 10:5). Menggantikan pikiran-pikiran dan interprestasi manusia dengan kebenaran Tuhan, dan berdoa untuk Nama-Nya dikuduskan sehingga Kerajaan-Nya datang dan gereja Tuhan diberkati.
*(RP/CherubimS Prophetic Ministry & berbagai sumber).


CherubimsOnline.com 2008