THE POWER OF SHEKHINAH GLORY - Tiang awan
Pengembaraan orang Israel di padang gurun sarat dengan bukti pekerjaan dan penyertaan Elohim. 40 tahun mereka lalui dengan segudang pengalaman "berjalan" bersama Tuhan. Tetapi ada yang sangat menarik untuk kita pelajari, yaitu mengenai keberadaan "awan" besar berbentuk tiang dengan ujung atasnya membesar yang menyertai Israel. Tiang awan ini melindungi bangsa Israel dari terik matahari padang gurun, dan pada saat malam tiba tiang awan ini berubah menjadi tiang api yang menghangatkan bangsa Israel dari suhu malam yang sangat dingin di padang gurun dan menerangi mereka dari kegelapan sehingga mereka dapat berjalan di malam hari dan terlindung dari musuh-musuh yang mungkin menyerang mereka.

Keberadaan tiang awan dan tiang api ini disebutkan sebanyak 58 kali dalam Kitab Suci, cukup banyak untuk tidak menarik perhatian kita. Kitab Keluaran merupakan kitab pertama yang mengungkapkan keberadaan yang Elohim ini. Awan itu jugalah yang sejak awal telah melindungi bangsa Israel dari pengejaran Firaun dan kemudian memimpin mereka dalam perjalanan di padang gurun menuju Gunung Sinai. Setelah Kemah Tabernacle dibuat Musa atas perintah Elohim, maka awan kemuliaan ini selalu hadir diatasnya, bersumber dari "Kemuliaan Shekhinah" diatas Tabut Perjanjian, menjadi pelindung, penuntun, pemelihara, dan bukti penyertaan-Nya atas Israel selama 40 tahun di padang gurun.

tiang awan

TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang
awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam
dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka
dapat berjalan siang dan malam. Dengan tidak beralih tiang
awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada
waktu malam di depan bangsa itu
(Keluaran 13:21-22)

Hampir seluruh kitab Musa membicarakan tentang keberadaan yang mendahsyatkan dari tiang awan dan tiang api Elohim ini. Dimasa-masa kemudian, saat bangsa Israel telah berada di Tanah Kanaan, juga ada "awan" yang disebutkan menyertai mereka, misalnya pada zaman Raja Salomo, saat bangsa Israel melakukan upacara pentahbisan Bait Suci Elohim (bd. 1 Raja-raja 8:10). Awan ini tetap hadir bersama kehadiran Tabut Perjanjian di Bait Suci Pertama. Kemudian dalam Perjanjian baru kehadiran awan Kemuliaan Shekhinah yang sama juga disebutkan sebanyak 18 kali dan semuanya berhubungan dengan keberadaan Yeshua Hamasiah. Yaitu ketika Yeshua Hamasiah dimuliakan di Gunung Hermon bersama Musa dan Elia (Matius 17:5; Markus 9:7; Lukas 9:34-35), ketika Yeshua Hamasiah diangkat ke sorga dari Gunung Zaitun ( KIS 1:9), dan nubuat tentang awan yang menyertai kedatangan-Nya kembali (Matius 24:30; 26:64; Markus 13:26; 14:62; Lukas 21:27; Wahyu 1:7; 10:1; 11:12; 14:14-16). Disamping perumpamaan tentang baptisan air dan baptisan roh dalam 1 Korintus 10:1-2.

Jelas Kitab Suci sedang mengajarkan sesuatu menyangkut "awan" ini. Pengetahuan mengenai hal ini akan memberikan pengertian-pengertian rohani yang dalam dan bernilai bagi kita. The Covenant Holders juga akan berurusan dengan "Awan Kemuliaan Shekhinah" dalam tindakan profetiknya, terutama di Gunung Hermon dan Gunung Zaitun. Sebenarnya, apakah awan kemuliaan itu?
KEHADIRAN YANG UNIK dan BERNILAI TINGGI
Yang pertama perlu kita sadari mengenai fenomena "awan" ini adalah kehadirannya yang Elohim. Itu bukan awan yang biasa kita lihat. Orang Israel pun terbatas dalam penggambarannya, karena pada waktu itu tidak ada satu bahasa manusiapun yang dapat melukiskannya, termasuk bahasa Ibrani. Bagaimana seseorang dapat menjelaskan sesuatu yang belum pernah dilihatnya? Musa menyebutnya sebagai awan sesuai dengan apa yang tampak pada matanya. Sebagai analogi, manusia tidak dapat menjelaskan fenomena yang hadir karena meledaknya bom nuklir di tahun 1945 di Hirozima dan Nagasaki, kata-kata yang dipakai waktu itu adalah "awan jamur" sesuai dengan apa yang disaksikan, awan yang membentuk seperti jamur raksasa. Tetapi jelas yang mereka lihat itu bukan tebaran jutaan jamur di langit, itu bukan jamur dalam arti sesungguhya, dan bukan jenis awan yang biasa dilihat. Itu adalah partikel-partikel radio aktif ganas yang secara molekuler berdampak pada udara/oksigen, akibat dari suatu ledakan bahan baku nuklir atau plotonium. Tetapi sampai sekarang orang masih menyebut fenomena tersebut sebagai "awan jamur", yang jelas bukan dalam arti harfiah. Demikian pula halnya dengan tiang awan dan tiang api yang dilihat bangsa Israel di padang gurun. Mereka tidak mungkin mengartikannya sebagai awan dalam pengertian harfiah. Awan itu bersifat Elohim, sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Berangkat dari pengertian ini kemudian kita dapatkan kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya. Suatu fenomena Elohim yang mendahsyatkan, suatu bentuk penampakan yang kasat mata dari kehadiran yang Elohim, suatu kehadiran yang unik dari keberadaan Tuhan. Pada siang hari terlihat seperti awan yang memberi peneduhan yang sempurna, tetapi pada malam hari awan itu berubah menjadi seperti api yang memberi terang dan kehangatan. Tidak ada kata dalam bahasa apapun yang dapat dipakai untuk melukiskan fenomena itu, kadang dinamakan cahaya kemuliaan Elohim, tetapi paling sering dikatakan sebagai "awan" saja. Dalam Perjanjian Lama istilah awan hampir selalu dipergunakan untuk menyatakan hal tersebut. Kita akan menyebut awan itu sebagai "Kemuliaan Shekhinah" sesuai dengan pengertian kita mengenai "Tabut Perjanjian" (bd. MS: Tabut Perjanjian).
AWAN SHEKHINAH di PERJANJIAN BARU
Fenomena yang sama sebenarnya terjadi di alam Perjanjian Baru atas gereja Tuhan saat ini. Keberadaan Israel Perjanjian Lama merupakan gambaran dan bayangan dari keselamatan dalam Perjanjian Baru (bd. Ibrani 10:1). Yeshua Hamasiah adalah wujud dari semua gambaran di Perjanjian Lama, dan kita, gereja-Nya, hidup di dalam alam perwujudan tersebut. Kehadiran "awan" Elohim di dalam kehidupan Israel sejak awal adalah pernyataan Tuhan atas penyertaan Roh-Nya di dalam kehidupan gereja Tuhan di akhir zaman. Tiang awan dan tiang api seharusnya hadir nyata dalam kehidupan gereja, baik individu maupun komunitas. Memang tidak lagi muncul secara kasat mata karena Perjanjian Baru adalah "Perjanjian Roh" yang ber-basis-kan iman, bukan lagi perjanjian fisik/materi yang berdasarkan perbuatan. Tiadanya pengetahuan menjadi sebab utama gereja Tuhan tidak menerima "penyertaan-Nya" yang ajaib dan dahsyat ini. Ada kecenderungan untuk "menterjemahkan" sesuatu yang bernilai tinggi kedalam hal-hal yang terlalu sederhana. Awan kemuliaan itu misalnya, sering diartikan secara "biasa" dengan menyatakan Kemuliaan tersebut hadir di dalam setiap kebaktian atau ibadah orang Kristen. Kata-kata: "hadirilah ibadah kebangunan rohani ini karena kemuliaan Tuhan akan dinyatakan". Kemuliaan yang bagaimana maksudnya? Jelas itu bukan kemuliaan yang kita maksudkan disini, itu adalah manifestasi keberadaan Ruach HaKodesh, tetapi bukan wujud kelengkapan maksimal dari keberadaan Elohim yang dinyatakan sebagai "the seven spirits of God" di dalam kitab Wahyu 3:1. Manifestasi pekerjaan Ruach haKodesh tidak hanya sampai tahapan sederhana seperti itu. Roh itu adalah tiga yang menjadi satu (Bapa, Anak & Roh Kudus), bukan lagi hanya sebatas peran Roh Kudus saja.

Kalau Kemuliaan Shekhinah itu seperti apa yang banyak diartikan orang Kristen sekarang, tentu Tuhan tidak akan menyatakan kehadiran bayangan/gambarannya dengan begitu mendahsyatkan di Perjanjian Lama. Sama juga dengan peng-artian orang "Lewi" di banyak gereja Tuhan sekarang ini. Apalah semua orang yang bekerja melayani mimbar adalah orang Lewi? Apakah pemungut kolekte itu orang Lewi? Tentu tidak demikian. Kalau artinya sesederhana itu Tuhan tidak akan menggambarkan keberadaan orang Lewi dengan cara luar biasa. Mereka ditebus dengan bayaran anak sulung Mesir, mereka dijadikan yang sulung dari anak sulung Ibrani, mereka dikeluarkan dari 12 suku Israel, mereka tidak menerima milik pusaka bangsa-bangsa, mereka harus berpakaian tertentu, mereka harus melayani Tabernaclel, Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus Elohim, hanya mereka yang berurusan dengan Tabut Perjanjian, dan seterusnya dan seterusnya. Itu terlalu dahsyat untuk hanya menggambarkan seorang pemungut kolekte atau seorang pemimpin pujian. Ketiadaan pengetahuan dalam gereja Tuhan menyebabkan penyepelean dan bahkan dapat menjadi penghinaan yang berlanjut terus kepada Yahweh Adonai Elohim.

Tiang awan dan tiang api Elohim adalah kedahsyatan yang sukar diukur nilainya. Ia adalah Kemuliaan Shekhinah yang hadir dan bertemu manusia secara ekslusif ditempat dimana persyaratannya dipenuhi. Ia maha hadir, tetapi menyatakan diri secara tidak maha hadir atas manusia. Ia akan hadir ditengah keberadaan orang Kristen yang "mengenal" apa dan siapa Kemuliaan Shekhinah itu. Ada standart tinggi yang harus dicapai, ada tingkatan spiritual tertentu yang harus dimengerti, dan ada iman berbasiskan pengetahuan yang ditindaklanjuti dalam perbuatan-perbuatan profetik. Jangan lagi kita mengartikan semaunya, Tuhan kita adalah keagungan yang mendahsyatkan dan Dia tidak murahan. Pengetahuan mengenai awan Kemuliaan Shekhinah ini patut kita pelajari dan mutlak di mengerti sebagai The Covenant Holders. Keberadaan Shekhinah adalah keberadaan di dalam "dimensi Bapa", dan kita akan banyak berurusan dengan wilayah Maha Kudus Elohim ini di dalam banyak tindakan profetik yang kita lakukan, khususnya di Pusat Bumi.

tiang api

Penyederhanaan pengertian menyebabkan kita kehilangan nilai-nilai utama dari kehadiran yang Elohim. Bagi para Pemegang Perjanjian Kemuliaan Shekhinah merupakan "barang mahal" yang menjadi syarat kembalinya posisi sempurna manusia dihadapan Elohim. Roma 3:23 mengatakan: "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Elohim". Kemuliaan Elohim disini adalah Kemuliaan Shekhinah yang hilang dari keberadaan manusia karena dosa Adam. Apakah kemuliaan itu kembali secara otomatis waktu kita menerima karya penebusan Hamasiah? Analogi yang sama ketika kita bertanya, apakah seluruh manusia dunia otomatis menerima penebusan Hamasiah yang "telah menebus dosa dunia"? Tidak! Itu hanya berlaku bagi mereka yang meresponi Dia. Dan hanya mereka yang berpengetahuanlah yang mampu meresponi Dia untuk menerima kembali Kemuliaan Shekhinah yang hilang dari manusia karena dosa. Tujuan Yeshua Hamasiah menebus dosa bukan hanya supaya kita menjadi manusia yang merdeka, tetapi juga untuk mengembalikan status Elohim kita sebagai manusia yang berkemuliaan Shekhinah melalui suatu tahapan proses. Yesaya menyatakan hal itu: "semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!" (Yesaya 43:7). Dan dihadapan Elohim, manusia-manusia berkemuliaan-Nya itu menjadi lebih penting daripada sekedar manusia-manusia tanpa dosa, mengingat apa yang dapat dilakukan Kemuliaan Shekhinah melalui manusia itu sukar diukur dengan apapun.
DARI "DIPENUHI" KEPADA "KEPENUHAN"
Tetapi kita juga tidak menolak berbagai pandangan yang menyederhanakan Kemuliaan itu. Secara umum anggapan-anggapan sederhana seperti itu memang selalu hadir dalam gereja. Mungkin sebagaimana seorang anak kecil mengenal bapanya, sebatas itu jugalah pengetahuannya. Seperti seorang awam melihat mobil Rolls Royce yang tidak lebih dari sebuah mobil biasa, tetapi bagi yang mengerti mobil itu bukan hanya sekedar mobil, tapi suatu karya seni yang mengagumkan dan bernilai tinggi. Pengetahuan menyebabkan kita menghargai suatu karya. Semakin kita berpengetahuan dan mengerti semakin kita menghargai. Demikian juga dalam menghargai Tuhan, karya salib-Nya misalnya. Semakin kita mengerti apa arti penyaliban Yeshua Hamasiah semakin kita bersyukur dan menghargainya.

Tiang awan dan tiang api itu memang pada awalnya hadir bukan dari Tabut Perjanjian, karena keberadaan Tabut Perjanjian dinyatakan setelah Gunung Sinai. Kitab Korintus memberi gambaran mengenai keberadaan "awan" ini dengan mengatakan:

Aku mau, supaya kamu mengetahui, saudara-saudara, bahwa nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan bahwa mereka semua telah melintasi laut. Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut. Mereka semua makan makanan rohani yang sama dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Hamasiah
(1 Korintus 10:1-4)

Itu adalah gambaran saat kita dibaptis Roh (awan) dan air (laut). Penggambaran Yeshua Hamasiah sebagai batu karang rohani yang mengikuti mereka jelas menunjukkan saat Israel berjalan dari Mesir sampai ke Laut Teberau. Tiang awan dan tiang api berjalan dibelakang mereka untuk mencegah pasukan Firaun mendekat. Tetapi sejak mereka menyeberang Laut Teberau sampai ke Gunung Sinai tiang awan dan tiang api itu berjalan didepan mereka (bukan dibelakang lagi). Ini gambaran dari kita yang telah "kepenuhan Roh" (bukan sekedar dipenuhi). Artinya telah berjalan menuju kedewasaan rohani sampai level tertentu (dimensi Kepala) karena Firman yang melahirkan iman.

Sejak pengalaman Gunung Sinai, tiang awan dan tiang api bukan lagi gambaran Roh Kudus dalam artian yang biasa, tetapi telah berubah menjadi "Kemuliaan Shekhinah" yang hanya hadir diatas Tabut Perjanjian. Hanya hadir diantara dua kerub diatas Tabut Perjanjian. Tanpa Tabut Perjanjian tidak ada Kemuliaan Shekhinah. Isi Tabut Perjanjian menjadi sumber kemuliaan yang bertumbuh (bergerak keatas), yaitu Tongkat Harun (Otoritas Kerajaan), Manna (Kuasa kebangkitan), dan dua Loh Batu (Firman yang hidup). Ketiganya bertumbuh mencapai "tutup pendamaian" (Darah Anak Domba Yeshua Hamasiah), dan menghadirkan Kemuliaan Shekhinah saat dua sayap kerub bertemu. Jelas, bukan sesuatu yang sederhana, bukan? (Kita akan mempelajarinya kemudian).

Kemuliaan jenis inilah yang kemudian menyertai dan memimpin Israel selama 40 tahun di padang gurun (sejak Gunung Sinai s/d Sungai Yordan). Perjanjian Baru berurusan dengan "perwujudan" Kemuliaan Shekhinah, baik dalam pengertian dan tingkat yang sederhana seperti gereja yang dipenuhi oleh Ruach HaKodesh dengan segala karunia roh-nya, dan gereja Tuhan yang dewasa yang bergaul dengan Kemuliaan Shekhinah dalam dimensi Bapa (Kepala). Kemuliaan Shekhinah yang terakhir inilah yang hadir pada saat Yeshua Hamasiah dimuliakan bersama Musa dan Elia di puncak Gunung Hermon (bd. Matius 17:5). Kemuliaan dalam wujud yang penuh, keberadaan yang "tiga" (Bapa, Anak, Roh Kudus).
PERLINDUNGAN dan PEMELIHARAAN
Musa membawa orang Israel dari Mesir ke Tanah Kanaan melalui perjalanan panjang di padang gurun. Tercatat 600.000 lebih laki-laki dewasa Ibrani berjalan bersama Musa (Keluaran 12:37), belum lagi isteri dan anak-anak mereka, ditambah sejumlah besar hamba dari bangsa-bangsa lain yang mengikuti mereka. Bila di jumlah akan mencapai angka lebih dari dua juta orang (mendekati tiga juta orang) mengikuti Musa dan Harun. Itu bukan kumpulan yang kecil, dua juta orang lebih dengan segala ternak dan harta bendanya masuk ke padang gurun akan tampak seperti gelombang laut yang besar. Musa dan Harun tidak mungkin mampu memberikan perlindungan maksimal kepada mereka ditengah kejamnya lingkungan padang pasir yang seakan tidak berujung dan penuh dengan bahaya mengintai. Padang gurun memang bukan tempat yang ramah bagi kehidupan manusia. Suhunya pada siang hari dapat mencapai 60 derajat Celcius dan pada malam hari turun sampai kurang dari 1 derajat Celcius. Perbedaan suhu yang ekstrim ini sukar diadaptasi oleh tubuh manusia. Belum lagi keberadaan ular padang gurun yang sangat mematikan yang setiap saat dapat menyerang siapa saja. Binatang-binatang berbahaya lainnya seperti kalajengking, dan juga keberadaan rumput beracun menambah lagi daftar bahaya di padang gurun. Dan yang paling menyebabkan kematian adalah masalah dehidrasi, kelangkaan air di padang gurun dalam perbedaan suhu yang ekstrem menjadi penyebab kematian manusia yang utama. Ke daerah seperti itulah Tuhan memerintahkan Musa dan Harun membawa orang Israel. Jelas tanpa jaminan perlindungan dan pemeliharaan Tuhan maka orang Israel hanya keluar dari Mesir menuju kematian sebelum sampai di Tanah Kanaan.

Disinilah "awan" itu berperan besar untuk mendukung kehidupan Israel. Tiang awan di siang hari memberikan perlindungan dari terik matahari dalam suhu yang membakar, seolah-olah ada payung raksasa yang menjadi peneduh, dan tiang api di malam hari seolah-olah selimut raksasa yang memberikan kehangatan dari suhu dingin yang mematikan dan cahaya penerangan yang memberikan kemampuan untuk melihat di padang gurun yang gelap gulita bila mereka berjalan pada malam hari. Bukan sampai disitu saja pemeliharaan Tuhan atas Israel, kebutuhan mereka akan makanan dan air juga dipenuhi dengan menurunkan roti Manna, daging burung puyuh, dan mata air mata air yang cukup untuk mendukung kehidupan mereka. Sungguh menakjubkan. Pemazmur mengungkapkannya demikian:

Dibentangkan-Nya awan menjadi tudung, dan api untuk menerangi malam. Mereka meminta, maka didatangkan-Nya burung puyuh, dan dengan roti dari langit dikenyangkan-Nya mereka. Dibuka-Nya gunung batu, maka terpancarlah air, lalu mengalir di padang-padang kering seperti sungai; sebab Ia ingat akan firman-Nya yang kudus, akan Abraham, hamba-Nya. Dituntun-Nya umat-Nya keluar dengan kegirangan dan orang-orang pilihan-Nya dengan sorak-sorai.
(Mazmur 105:39-43)

Begitu sempurnanya perlindungan dan pemeliharaan Tuhan atas umat-Nya. Bahkan apa yang mereka pakai (jubah dan kasut) tidak pernah rusak. Ulangan 29 ayat 5 mengatakan: "Empat puluh tahun lamanya Aku memimpin kamu berjalan melalui padang gurun; pakaianmu tidak menjadi rusak di tubuhmu, dan kasutmu tidak menjadi rusak di kakimu".

Perlindungan dan pemeliharaan yang sama terjadi di Perjanjian Baru, bahkan jaminan ini hadir dalam tingkat kwalitas yang sukar diukur lagi, jauh lebih berarti bila dibandingkan dengan ukuran apapun di perjanjian Lama. Kalau yang hanya "bayangan" saja begitu mendahsyatkan, apalagi "perwujudan" nya (bd. Posisi Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru dalam Ibrani 10:1). Awan Kemuliaan itu benar-benar menyatakan wujudnya di Perjanjian Baru, walaupun tidak lagi kasat mata karena perjanjiannya bukan lagi perjanjian fisik tapi roh. Perjanjian Roh yang berbasiskan iman telah malampaui hal-hal yang kelihatan dan sementara, pada tingkat tertentu gereja Tuhan (Jemaat Anak Sulung) bergerak menyatakan kehadiran Shekhinah Glory bagi kepentingan gereja secara keseluruhan. Bentuk perlindungan dan pemeliharaan Elohim tidak lagi berbicara dalam konteks yang miskin dan terbatas, Ia tidak lagi berurusan dengan pakaian dan kasut Israel dalam pengertian hurufiah. Tetapi jauh lebih berarti daripada yang dapat dipikirkan manusia. Shekhinah Glory adalah unsur tertinggi dari keberadaan Roh Elohim, Ia berada dalam status Bapa, Anak, dan Roh Kudus (Yahweh Adonai, Yeshua Hamasiah, dan Ruach HaKodesh). Ia menyatakan perlindungan dan sekaligus pemeliharaan atas gereja-Nya.
UJIAN KESETIAAN & KETAATAN
Tiang awan dan tiang api juga menuntun umatnya melakukan perjalanan. Kapan mereka harus berangkat berjalan dan kapan mereka harus berhenti untuk memasang tenda, dan kemana arah dan tujuan yang harus mereka tempuh, jalan mana yang harus mereka jalani. Semua bergantung sepenuhnya dari kehadiran tiang awan dan tiang api Elohim yang naik untuk bergerak atau turun untuk berhenti. Disini kesetiaan dan ketaatan Israel diuji dengan berat, karena hanya itu pengharapan Tuhan atas umat-Nya di padang gurun, ketaatan yang mutlak demi keamanan Israel sendiri berjalan di padang gurun (lembah kekelaman dunia ini bagi kita). Ketetapan hati Israel menjadi harga yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dan dalam ujian-ujian tersebut berulang kali Israel jatuh dalam dosa ketidaktaatan dan persungutan. Rangkaian proses pendewasaan gereja Tuhan dilalui dalam cara yang sama. Sangkal diri dan pikul salib menjadi bahasa yang dipakai dalam Perjanjian Baru.

Ketika tiang awan atau tiang api naik keatas, Israel melakukan persiapan dengan berkemas-kemas menggulung tenda dan membungkus barang-barangnya, siap untuk berjalan. Ketika tiang awan/api itu berjalan, Israel mengikutinya. Ketika tiang awan/api itu berhenti, mereka berhenti. Dan ketika tiang awan/api itu turun, mereka mendirikan tenda dan melepaskan perbekalannya. Demikian seterusnya, mereka taat mengikuti perintah Elohim melalui tiang awan/api diatas Tabut Perjanjian dalam Kemah Tabernakel. Seringkali awan itu naik dan orang Israel berkemas-kemas, tetapi tiang awan/api itu tetap diam tidak berjalan sepanjang hari, dan selama itu juga orang Israel hanya menunggu. Kemudian tiang awan/api itu turun lagi, dan Israel mendirikan kembali tendanya. Tetapi begitu selesai mendirikan tenda tiba-tiba tiang awan itu naik lagi, orang Israel membongkar kembali tenda yang baru saja mereka dirikan. Tiang awan/api kemudian berjalan beberapa ratus hasta kemudian berhenti dan turun lagi diatas Tabernacle. Begitulah ketaatan Israel diuji, dan banyak diantara mereka yang kemudian bersungut-sungut. Demikianlah Tuhan "menghabisi" sebagian besar dari mereka di padang gurun melalui "seleksi alam". Kehadiran Jemaat Anak Sulung sebagai The Covenant Holders bukan hasil dari proses yang biasa-biasa, tetapi melalui perjalanan spiritual dengan ujian-ujian yang berat. Mengikuti Yeshua Hamasiah dalam kapasitas Bapa jauh lebih berat daripada mengikuti Yeshua Hamasiah dalam kapasitas sebagai Anak (kasih karunia). Seperti anak bayi yang digendong dengan anak dewasa yang berjalan sendiri dalam otoritas dan kuasa Bapa-nya. Inilah "seleksi alam" bagi calon The Covenant Holder, tidak semua akan mencapai Panggilan Tertinggi ini, karena dituntut respons yang radikal sebagai syaratnya.

40 tahun perjalanan Israel di padang gurun merupakan akibat ketidaktaatan mereka. Setiap ketidaktaatan menambah panjangnya perjalanan. Bayangkan bila perjalanan dari Gunung Sinai langsung ke Tanah Kanaan ditempuh dengan berjalan kaki dengan 2 juta lebih manusia, paling lama memakan waktu 4 s/d 6 bulan saja (berjalan lambat). Tetapi karena persungutan dan dosa Israel, perjalanan itu menjadi perjalanan berputar-putar selama 40 tahun atau 480 bulan. Satu generasi disingkirkan Tuhan di padang gurun, generasi yang penuh dengan tembok-tembok doktrin perbudakan Mesir. Generasi yang mindset-nya budak. Bagaimana Tuhan dapat berurusan dan bekerjasama dengan gereja yang sarat dengan doktrin-doktrin manusia yang memperbudak manusia dan melumpuhkan firman Tuhan? Tuhan sedang mencari generasi yang baru, generasi Yoshua dan Kaleb, generasi yang telah meninggalkan azas-azas pertama dan beralih kepada perkembangannya yang penuh (bd. Ibrani 6:1).

Jelas bahwa menuju suatu kwalitas tentu melalui serangkaian pengujian dan pencobaan di padang gurun. Yeshua Hamasiah mengalami pencobaan di padang gurun selama 40 hari 40 malam. Gambaran itu mengandung pengertian profetik yang luar biasa, terutama bila kita menghubungkannya dengan 40 tahun pencobaan Israel di padang gurun. Angka 4 selalu dihubungkan dengan hal ini oleh orang Ibrani (bd. MS: The God Of Numbers and The Name Of God). 400 tahun juga mereka menjadi budak di Mesir (bd. Kejadian 15:13; KIS 7:6), dan angka 400 juga berbau kematian (bd. Kejadian 23:15-16).
(rp&jma - BERSAMBUNG BAGIAN KEDUA)

CherubimsOnline.com 2008